Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me

SUSI dan BILL GATES ~ PUJIAN dan KRITIKAN



By  Rudi B. Rosidi     11:32    Labels:,, 
Sepekan ini saya sudah menulis 4 postingan yang berkaitan dengan Mbak Susi. Beliau benar-benar fenomena. Magnetnya luar biasa. Seandainya saya berkesempatan bertemu, saya akan mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi menteri, selamat atas fenomena pada dirinya, dan membisikkan sedikit pesan agar berupaya terus menerus memperbaiki diri dari kelemahan yang masih ada. Misalnya jika belum bisa berhenti merokok maka setidaknya merokoknya tidak di depan publik atau media karena kebetulan beliau sekarang sudah menjadi pejabat publik. Jika pesan saya tidak diterima atau saya disemprot atau bahkan dihinapun karena mbak Susi tidak menyukai pesan saya, tentu saja tidak apa-apa. Sudah lepas kewajiban :)

Kali ini saya ingin membahas tentang fenomena Mbak Susi yang nyentrik khususnya dalam kaitannya dengan bagaimana sebaiknya pembela Jokowi menanggapi dan menyikapi terhadap kritikan pada beliau. Dan sebenarnya respon sikap ini bisa bersifat umum pada kritikan atau masukan dalam hal apapun.

Pada Tahun 2010, tepat 6 hari sebelum pemaknaan tanggal lahir, saya pernah mereview sebuah catatan di Facebook's Notes tentang Bill Gates. Berikut materinya:

Sudah banyak yang tahu kehebatan Bill Gates. Pendiri Microsoft Corporations ini menjadi manusia terkaya di planet ini selama 13 tahun berturut-turut. Tahun ini posisinya direbut Warren Buffet, karena ia ceroboh ingin mencaplok Yahoo!, sehingga nilai saham Microsoft melorot, dan kekayaan bersihnya pun ikut terpotong. Andai tidak melakukan langkah blunder itu, ia masih terkaya di dunia tahun ini. Tidak heran jika ia menjadi idola banyak orang, termasuk saya.

Fokusnya di dunia peranti lunak memang tak tergoyahkan. Sepanjang hidupnya, fokus bisnisnya hanya di satu bidang ini — atau yang berkaitan dengan peranti lunak, jasa dan solusi. Ia tak pernah menoleh sedikitpun ke bidang lain. Pria kelahiran 28 Oktober 1955 ini mampu membangun Micrsoft dari titik nol menjadi perusahaan dengan penjualan sebesar US$ 51,12 miliar alias sekitar Rp 500 triliun pada tahun fiskal Juni 2007. Itu artinya hampir setara dengan 70% belanja negara kita tahun ini.

Melalui payung Microsoft pula ia mampu menampung 78 ribu tenaga kerja yang tersebar di 105 negara. Melalui Microsoft pula ia mendominasi pasar peranti lunak dunia.

Dengan prestasi yang sedemikian hebat, tidak mengherankan jika kedatangannya di Indonesia tahun lalu disambut meriah. Kuliah umumnya berjudul ‘Second Digital Decade’ yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat 9 Mei 2009 lalu, dihadiri 2.500 orang, mulai dari presiden, menteri kabinet, pengusaha, profesional hingga mahasiswa. Masih ribuan lagi lainnya yang terpaksa gigit jari karena kehabisan tiket untuk mengikuti kuliah umum itu.

Ada satu hal penting yang disampaikan Bill Gates mengenai pendidikan pada kuliah umum itu. “Semua anak (pelajar) harus menyelesaikan pendidikan, untuk itu perlu semua pihak termasuk pemerintahan anda, harus turun tangan untuk itu,” kata Bill Gates, yang disambut tepuk tangan hadirin. Bahkan pada saat sesi tanya jawab, Bill Gates secara tegas menyarankan agar para mahasiswa tidak meniru dirinya yang DO di tengah jalan meski sempat kuliah di Harvard University.

“Selesaikan kuliah Anda dan raihlah gelar akademis,”katanya.
Bagaimanapun juga, kuliah adalah saat yang paling tepat untuk memenuhi segala keingintahuan mahasiswa. Dan jika ingin menjadi pengusaha, gunakanlah kesempatan magang di perusahaan secara maksimal.

“Saya ini contoh yang buruk,” katanya seperti dikutip Detikdotcom.

Selama ini, saya sering membaca kesalahpahaman banyak orang yang ingin menjadi pengusaha dengan mengorbankan kuliah. “Bill Gates yang nggak lulus kuliah saja bisa jadi yang terkaya di dunia,” kira-kira begitulah alasan mereka. Bahkan mereka bisa memberikan banyak contoh orang yang sukses di dunia usaha tanpa embel-embel sarjana. Larry Allison — pendiri Oracle Corporation — misalnya, adalah mahasiswa gagal. Steven Spielberg, sutradara film-film box office dunia, juga putus kuliah. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sang triliuner baru yang baru berumur 23 tahun, juga tak menyelesaikan kuliahnya di Harvard University.

Kenyataan di atas kadang malah digunakan sebagai lelucon: bahwa mereka yang pintar secara akademis tidak akan sukses di dunia usaha. Mereka yang pintar dan lulus sarjana malah menjadi jongos orang-orang “bodoh” yang tidak lulus kuliah.

Memang, mereka yang tidak memiliki gelar sarjana tetap berpeluang menjadi pengusaha sukses. Namun bukan berarti bahwa mengorbankan kuliah merupakan tiket menuju sukses. Bahkan, jika dilakukan penelitian, kemungkinan sarjana yang sukses menjadi pengusaha amat banyak. Namun, karena sarjana sukses berusaha dianggap sebagai hal yang biasa, tidak banyak media yang mengulasnya. Lebih menarik mengupas tokoh-tokoh sukses yang latarbelakangnya menderita atau kurang bagus — termasuk tidak lulus kuliah. Ini yang bisa menimbulkan persepsi sesat bahwa DO adalah ciri pengusaha sukses.

Bill Gates sudah menyampaikan dengan jelas, bahwa dirinya adalah contoh yang buruk dalam hal akademis. Sesungguhnya ia sangat ingin menggondol gelar sarjana. Simak bagaimana pidatonya setelah ia menerima gelar sarjana kehormatan dari Harvard University tahun lalu:

“Sudah lebih dari 30 tahun saya menunggu untuk mengatakan ini, ‘Ayah, saya selalu bilang saya akan kembali (ke kampus) dan meraih gelar.’ Tahun depan (2008) saya akan ganti pekerjaan. Merupakan sesuatu yang menyenangkan bahwa bisa mencantumkan gelar sarjana di daftar riwayat hidup.” 

Benar, ia kini telah berganti pekerjaan. Ia sudah mundur dari manajemen Microsoft, dan “hanya” menjadi chairman. Waktunya lebih banyak didedikasikan ke Yayasan “Bill and Melinda Gates” yang didirikan tahun 2000 dengan tujuan membantu proyek-proyek peningkatan kesehatan, pengurangan kemiskinan, dan proyek yang memperluas akses masyarakat kepada teknologi.

Ucapan Bill Gates menyiratkan sesuatu, yang kira-kira seperti ini: “Contohlah saya, tapi jangan di sisi akademis”

https://www.facebook.com/notes/rudi-rosidi/belajar-dari-bill-gates/460686721280

Coba kita renungkan, seorang Bill Gates saja yang prestasinya sudah sangat luar biasa di berbagai ranah aktivitas baik riset, teknologi maupun bisnis, begitu tawadhu' atau rendah hati dan tidak sungkan untuk mengatakan jangan mencontoh keburukan saya. Apakah kita yang masih belum 'apa-apa' tidak mau belajar dari kerendahan hati beliau?

Buat saudara-saudaraku semua, khususnya rekan-rekan Pembela Jokowi dan derivatif aktivitasnya, mari belajar untuk membenarkan sesuatu yang sudah benar menurut hati nurani kita. Hindarilah 'membela diri' dengan apologis yang hanya menambah masalah baru. Saya yakin siapapun yang melakukan kritik baik yang santun atau pun tidak santun, memiliki tujuan yang sama dengan kita semua: agar Indonesia menjadi lebih baik.

Dikritik, dimarahin atau dihina tidak akan membuat luka bakar di kulit atau menyebabkan kejang-kejang, pusing, mual, dan efek samping lain pada fisik. Jadi ambil saja materi nasehatnya jika memang benar. Jika tidak setuju dengan metode kritiknya, silakan usulkan untuk memperbaiki metodenya pada yang bersangkutan.

Dan sebaliknya buat yang melakukan kritik, mari murnikan niat dan memperbaiki metode kritik masing-masing supaya lebih mudah dipahami oleh pihak yang dikritik.

Satu hal yang penting kita amati, pujian dan kritikan itu jika disimbolkan dengan jempol maka keduanya sebenarnya sama saja, yang membedakan hanya pada sudut pandang. Sebuah kritikan jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sesungguhnya adalah sebuah pujian. Begitu pun sebaliknya.

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah : 22)

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al Maidah : 8)

Wallahu a'lam...



About Rudi B. Rosidi

Skills: Multimedia Learning, Information Technology, Numerical Analysis. - Occupation: Business, Lecturer. - Employment: PT Softchip Computama Indonesia, CEO. - Official Website: www.kliksci.com. - Communities: IT Development, Midwifery Industries, Fatinistic.

No comments:

Post a Comment


Contact Form

Name

Email *

Message *

Follow by Email

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews