Welcome to Kavtania's Blog

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...
Follow Me
Mari kita lupakan sejenak gonjang-ganjing berita tentang Mbak Susi Mentri yang Nyentrik, Tukang Sate, dan DPR Tandingan. Mari mengingat kembali bahwa 2 hari lagi, pada Sabtu 1 November 2014, harga bahan bakar minyak bersubsidi akan dinaikkan oleh pemerintah Jokowi-Kalla.

Judul tulisan ini memuat singkatan. BBM adalah singkatan dari Bahan Bakar Minyak, sementara MBB singkatan dari Menyengsarakan Banyak Budak. Sehingga jika judul tersebut kita panjangkan akan menjadi Bahan Bakar Minyak Naik Kian Menyengsarakan Banyak Budak. Judulnya mungkin agak lebay, tapi ada pesan yang ingin saya sampaikan berkaitan dengan penulisan singkatan dalam judul tersebut. Konsen saya dalam tulisan ini adalah ingin mengulas seberapa besar pengaruh kenaikan BBM bagi masyarakat banyak.

Sebelum melanjutkan membahas judul tersebut, saya mencoba mengawali tulisan ini dengan menengok terlebih dahulu Data BPS tentang Persentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan Menurut Kelompok Barang dari Penduduk Indonesia pada periode September Tahun 2013. Pendapatan per kapita negara kita masih relatif lebih kecil dibandingkan negara lain di ASEAN semisal Malaysia. BPS memuat 2 (dua) kategori utama kelompok barang yang dikonsumsi oleh penduduk, yakni barang konsumsi berupa makanan dan bukan makanan. Yang termasuk dalam kategori konsumsi makanan diantaranya adalah Padi-padian, Umbi-umbian, Ikan, Daging, Telur dan susu, Sayur-sayuran, Kacang-kacangan, Buah-buahan, Minyak dan lemak, Bahan minuman, Bumbu-bumbuan, Konsumsi lainnya, Makanan jadi, Minuman beralkohol, dan Tembakau atau sirih. Sementara yang ermasuk dalam kategori konsumsi bukan makanan, diantaranya adalah Perumahan dan fasilitas rumahtangga, Barang dan jasa, Pakaian, alas kaki dan tutup kepala, Barang-barang tahan lama, Pajak dan asuransi, serta Keperluan pesta dan upacara.

Menurut BPS, persentase masing-masing barang yang dikonsumsi oleh penduduk Indonesia pada Bulan September 2013 adalah 47,2% untuk makanan, dan 52,8% untuk bukan makanan. Maka jika kita memiliki pendapatan per kapita Rp 32.463.736 juta per tahun atau sekitar Rp 2,7 juta per bulan, penduduk Indonesia akan mengalokasikan Rp 1.274.400 dari pendapatan itu untuk mengkonsumsi makanan, dan sisanya Rp 1.426.140 untuk mengkonsumsi non makanan. Rincian untuk masing-masing sub kategori barang yang dikonsumsi ada dalam lampiran gambar tulisan ini. Untuk tahun 2014 BPS belum merelease pendapatan per kapita penduduk Indonesia. Namun jika diasumsikan naik 10% saja, maka akhir tahun ini pendapatan per kapita naik menjadi Rp 2,9 juta per bulan.

Sekarang mari kita ulas secara sederhana dampak kenaikan BBM terhadap kenaikan harga barang-barang konsumsi baik makanan maupun non makanan. Jika kenaikan harga BBM sebesar Rp 3.000 dari harga awal Rp 6.500 sehingga menjadi Rp 9.500, maka kenaikan BBM secara persentase adalah sebesar 46,15%.
Pertanyaan kunci dari persoalan kenaikan BBM sebenarnya bisa ‘dibuat’ sederhana, yakni apakah kenaikan BBM tersebut menyebabkan terjadinya surplus atau defisit pendapatan-pengeluaran masing-masing profesi masyarakat. Sebagai ilustrasi sederhana akan saya paparkan sebagai berikut.
Kenaikan BBM pasti akan menaikkan pula pengeluaran, misal 13,45%, baik pengeluaran untuk konsumsi baham makanan maupun non makanan. Jika dengan kenaikan tersebut pendapatan kita tidak meningkat minimal sebanyak 13,45% pula, maka artinya kenaikan BBM akan berdampak defisit pada neraca keuangan rumah tangga kita.

Kita ambil contoh misalnya profesi seorang supir angkot. Pendapatan sebelum kenaikan BBM misalnya Rp 3 juta per bulan. Pendapatan tersebut digunakan untuk konsumsi kebutuhan hidup sebesar Rp 2.900.000 per bulan, dan menabung Rp 100.000 per bulan. Misal jika dengan adanya kenaikan BBM sebesar 46,15%. menyebabkan kenaikan biaya konsumsi bulanan rata-rata sebesar 13,45%. Sementara itu dengan menaikkan ongkos angkot, sang supir mampu kenaikan pendapatan sebesar 10,00%. Dengan demikian pengeluaran dan pendapatan sebulannya akan naik masing-masing menjadi Rp 3.290.000 dan Rp 3.300.000. Artinya kenaikan itu menyebabkan pengurangan surplus anggran sebesar Rp 90.000, dan dia hanya bisa savingsebulan sebesar Rp 10.000 dari Rp 100.000 sebelum kenaikan BBM.

Berbagai profesi tentu saja akan menerima dampak yang berbeda-beda. Tergantung pada selisih kenaikan pendapatan dengan pengeluaran. Profesi yang sangat ‘resisten’ akibat dampak kenaikan BBM ini biasanya adalah pegawai yang biasanya ‘hanya’ mengandalkan penerimaan dari gaji atau honor bulanan semisal PNS atau buruh. Terlebih lagi Pemerintah Jokowi sudah wanti-wanti akan mengambil kebijakan memangkas sebagian tunjangan-tunjangan PNS. Saya pernah menulis tentang hal ini dalam postingan berikut:https://plus.google.com/u/0/110235687001326579737/posts/j1j1LvB7HiC

Sementara bagi pengusaha atau pedagang, mungkin lebih sedikit ‘leluasa’ mengatur pendapatan dengan cara menaikkan harga jual barang atau jasa produksinya.Gambar yang saya sertakan bisa mengilustrasikan uraian ini. Data yang ditampilkan adalah ilustrasi saja, bukan data nyata.

Perhitungan dan analisis resiko berkaitan dengan kenaikan BBM ini sesungguhnya sangat kompleks dan njlimet. Banyak tools yang bisa digunakan untuk menganalisis manfaat-resiko dari kenaikan BBM ini. Baik pendekatan mikro maupun makro, analisis dampak kenaikan BBM secara kualitatif maupun kuantitatif pasti akan menyertakan banyak variabel. Sudah banyak penelitian yang mengulas tentang tema ini baik dari kalangan akademisi, maupun praktisi. Namun kembali lagi-lagi, di negara kita tercinta Indonesia, rekomendasi teknis sering dikalahkan oleh rekomendasi politis. Sang insinyur harus mengalah pada sang penguasa. Jadi dalam pemahaman saya, kenaikan BBM ujung-ujungnya sebenarnya adalah persoalan politis, bukan teknis.

Tidak banyak dari masyarakat kita yang tahu bagaimana perhitungan dan analisis dari kebijakan kenaikan BBM. Lebih banyak lagi yang tidak tahu bagaimana proses politis kebijakan kenaikan BBM tersebut dikeluarkan. Dan amat sedikit lagi masyarakat yang terlibat dalam proses keluarnya kebijakan tersebut.

Persis seperti judul tulisan ini di atas. Banyak dari kita yang bisa membaca kalimat dalam judul tersebut. Namun tidak banyak dari kita yang memahami kalimat tersebut. Dan lebih tidak banyak lagi dari kita yang bisa membuat kalimat tersebut.

Cobalah amati judul tersebut dan bandingkan dengan kalimat ini: “Biar raga Rudi tidur, agar raib” yang pernah saya buat pada Tanggal 21 Februari 2012.

Jika belum menemukan kuncinya, berkunjunglah ke Neng Google dan ketikkan Palindrome atau mengunjungi postingan saya di link berikut: https://plus.google.com/u/0/110235687001326579737/posts/UD1FrDjfZW9

Saya pribadi minta maaf jika  ‘terpaksa’ mengambil kata ‘budak’ pada judul tulisan ini untuk menggambarkan kondisi rakyat. Budak yang harus patuh pada keputusan seorang Master, sang penguasa negeri. Banyak rakyat yang tidak mengerti bahkan tidak boleh tahu dengan kondisi sesungguhnya bangsa ini.

Namun demikian, mari kita semua berdoa dan ikhtiar, semoga saja kenaikan BBM tidak kian menyengsarakan rakyat. Semoga saja kenaikan BBM kali ini tidak sampai membuat rakyat kita menjadi lebih berontak karena semakin nelangsa menjalani hidup. Semoga daya beli masyarakat tetap kuat, dan yang lebih penting lagi kesenjangan antara si kaya dan si miskin menjadi tidak semakin jauh. Aamin …

Wallahu a’lam..

Referensi:
Pendapatan per Kapita Indonesia:
http://www.bps.go.id/eng/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=11&notab=76

Pendapatan per Kapita Seluruh negara:
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_PDB_(KKB)_per_kapita


Tukang Bubur Naik Haji. Judul sebuh sinteron di salah satu televisi swasta yang tidak pernah saya ikutin bahkan untuk satu episode pun. Namun dari sumber wikipedia saya mendapatkan sinopsisnya sebagai berikut.

Cerita keseluruhan Tukang Bubur Naik Haji seperti menonton kehidupan masyarakat sehari-hari, yang di dalamnya termasuk perilaku kita sendiri. Kita yang seolah-olah seorang dermawan sejati, padahal sebenarnya kita sangat mengharapkan pujian orang. Sebenarnya ada kecenderungan kita ingin pamer. Bagaimana kita selalu berpenampilan suci, padahal apa yang kita lakukan seringkali keji. Bahkan kepada orang yang pernah menolong kita sekalipun. Kepalsuan-kepalsuan yang hanya kita sendiri yang tahu, selalu membuat kita tersenyum jengah. Kesemuanya disajikan secara manis dan lucu dalam serial ini.

Saya mencoba sedikit mengulas dari sudut pandang nilai-nilai keadilan dan keadaban atas apa yang dilakukan oleh saudara sebangsa kita Muhammad Arsyad Assegaf berkaitan dengan kasus yang menimpa dirinya yang harus berurusan dengan hukum akibat aktivitas bully.

Definisi bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Istilah Bullying belum banyak dikenal masyarakat, terlebih karena belum ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Bullying berasal dari kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu orang yang lemah.

Dari referensi yang saya dapatkan, ada beberapa outline informasi terhadap kasus yang menimpa Mas Arsyad ini:
1. Pekerjaannya adalah buruh Tukang Sate.
2. Ekonomi keluarganya termasuk lemah, bahkan dia adalah salah satu anggota keluarga yang turut membiayai ketiga adiknya (2 masih SD, 1 SMP). Penghasilan sehari sekitar 35 ribu.

3. Foto yang dianggap menghinakan Jokowi berupa editan gambar berbau pornografi diupload melalui FB pribadinya yang sekarang sudah suspend.
4. Foto pornografis tersebut diunggah semasa pilpres melalui warnet dan bukan hasil editan sendiri.

5. Dia dilaporkan oleh Henry Yosodiningrat, Kordinator Tim kuasa hukum Pemenangan Kampanye Joko Widodo.
6. Penangkapan terjadi tepatnya Kamis pagi (23/10/14). Diawali, empat orang berpakaian sipil datang di rumah dia. Keempat orang mengakui sebagai anggota polisi itu menanyakan beberapa hal tekait gambar-gambar yang diunggah dia. Kemudian, dia digelandang ke Mabes Polri.

7. Pada saat pipres dia memilih golput sementara Ibunya mengaku memilih Jokowi.
8. Dikenai pasal berlapis yaitu Pasal 310 dan 311 KUHP, Pasal 156 dan 157 KUHP, Pasal 27, 45, 32, 35, 36, 51 UU ITE dengan ancaman 12 tahun penjara.

9. Ibunya bersedia sembah sujud agar anaknya dimaafkan bahkan mau bunuh diri jika sampai anaknya ditahan.

Mungkin masih banyak beberapa data yang berkaitan dengan kasus ini yang belum saya sebutkan di atas. Masyarakat seperti biasa memberikan apresiasi yang berbeda-beda. Dan seperti biasa pula ketika sebuah 'isue' dilemparkan ke publik, muncul polemik. Debat karena perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa kejadian ini adalah skenario pencitraan terhadap Jokowi berlanjut dan pengalihan isu kenaikan BBM belaka, ada pula yang berpendapat bahwa kejadian ini karena motivasi pribadi Henry Yosodiningrat agar mendapatkan perhatian khusus dari Jokowi, atau ada yang berpendapat pula bahwa kejadian ini adalah sebuah hal yang biasa tanpa rekayasa. Dalam hal penanganan, ada yang berpendapat agara pelaku di hukum sesuai dengan hukum yang berlaku, dan sebagian lain berpendapat sebaiknya dimaafkan. Dan lagi-lagi pendapat-pendapat tersebut selalu saja terpolarisasi sesuai dengan dukungan selama pilpres. Yang mendukung Jokowi sebagian besar berpendapat pelaku harus dihukum, yang mendukung Prabowo sebagian besar berpendapat sebaiknya tidak dihukum dan meminta keadilan bagi orang lain yang melakukan hal sama.

Saya pribadi mencoba memandangnya dari 2 aspek. Pertama berkaitan dengan aspek latar belakang, dan kedua dari aspek kejadian.

Secara latar belakang, kita mungkin sepakat bahwa apa yang dilakukannya adalah apresiasi ketidaksetujuan pada profil seorang Jokowi. Cara yang dia lakukan tentu saja banyak ditemui pula dilakukan oleh orang lain sejak dulu ketika periode presiden sebelumnya, atau bahkan selama pipres 2014 ini. Jokowi dan Prabowo menjadi obyek yang paling banyak mendapatkan bully semasa pilpres, baik bully berupa kata-kata cercaan yang bernuansa hewani maupun bully dalam bentuk gambar atau video.

Maka tanpa harus membenarkan cara dia mengungkapkan apresiasinya, sebuah kenyataan bahwa apa yang dilakukan olehnya sebagai bentuk dari apresiasi terhadap capres adalah sebuah hal yang bisa diwajarkan. Memang amat disayangkan jika dia melakukanya dengan tidak mengindahkan norma dan aturan yang berlaku. Namun marilah kita menilai segala sesuatu dengan seadil-adilnya walau keadilan manusia hampir pasti sangat absurd.

Jika kita sepakat dengan tuntutan terhadap dia untuk dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku, maka kita juga sebaiknya sepakat bahwa siapapun yang melakukan hal seperti dia harus dihukum pula. Pemerintah Jokowi harus mendorong setiap kasus pembullyan yang dilakukan selama pilpres atau sesudahnya untuk diterapkan perlakuan hukum yang sama. Saya yakin penjara kita akan penuh terisi masyarakat yang berlaku represif selama pilpres. Tentu kita masih ingat, bahkan seorang tokoh seperti Wimar Witular melakukan pembully-an pada banyak tokoh yang tak berpolitik seperti Aa Gym atau bahkan organisasi keislaman seperti Muhammadiyah.

Jika kita sepakat bahwa sebaiknya menggunakan norma welas asih dengan memberikan maaf tanpa menghilangkan aspek kuratif (mendidik dengan mencegah), maka kita sebaiknya sepakat pula bahwa siapapun yang melakukan hal tersebut sebaiknya kita maafkan. 

Toh, dalam ajaran Islam ada perintah untuk memaafkan jika yang merasa dirugikan itu mau. Bahkan dalam kasus hukum pembunuhan pun diajarkan untuk lebih mengutamakan memberi maaf dibandingkan membalas dengan membunuh lagi (Qishas).

Namun lepas dari itu semua, kita semakin sadar bahwa hukum di Indonesia yang seharusnya berlaku adil sesuai dengan lambangnya yang berupa timbangan, ternyata masih sangat jauh dari yang diharapkan. Supremasi hukum hanya sekedar jargon. Hukum cenderung membela yang mampu dan berkuasa. Bagi yang tidak memiliki kemampuan dan punya kuasa, maka yang sering terjadi adalah menjadi korban hukum.

Mas Arsyad, dirimu tak hanya membuka mata hati setiap rakyat Indonesia bahwa masih banyak ketidakadilan yang terjadi di negeri tercita ini. Namun dirimu juga sudah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia sudah sangat jengah dengan kepalsuan elite politik dalam menipu rakyat. Walau tak mampu secara ekonomi, bukan berarti rakyat banyak tak berhak menyuarakan kebenaran hatinya.

Jika personifikasi presiden adalah orang yang menjadi perhatian atas keberaniannya melakukan sesuatu maka Mas Arsyad sudah menjadi presiden kita. Dia mampu mengingatkan kembali ingatan masyarakat kita yang masih tertidur bahwa kita memiliki sila ke-2 yang mengajarkan kemanusiaan itu harus dibangun tidak sekedar secara adil, namun juga beradab.

Marilah bersama-sama terus belajar berlaku adil setiap menyikapi keadaan yang ada. Mulut kita mungkin bisa berdusta saat ini, namun yakinlah ada suatu masa ketika mulut kita terkunci. Yang berbicara hanya mata, telinga, tangan, kaki, dan hati kita. Sebab saat itu kita sudah tak kan bisa lagi berlaku penuh kepura-puraan seperti dalam cerita Tukang Bubur Naik Haji

_Wallahu a'lam..._


Tambahan Info:
Bagi rekan-rekan yang ingin membantu keluarga Mas Arsyad, Jaringan Merah Putih sudah memfasilitasinya. melalui Bank BCA No Rekening:566.0310.659 atas nama PT Pranata Inti Media(rekening sementara sambil menunggu rekening JMP jadi).

Sampai pukul 15.00 tadi, jumlah bantuan sudah terkumpul: Rp 12.304.999 dan akan diserahkan besok ba'da Jumat, langsung kepada Ibunda beliau.

Untuk informasi selanjutnya silakan mengunjungi:
https://www.facebook.com/pages/Jaringan-Merah-Putih/634992333286063

Daftar penyumbang dan informasi terkini berkaitan dengan keluarga Mas Arsyad bisa dilihat di:
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=661353433983286&id=634992333286063



Sepekan ini saya sudah menulis 4 postingan yang berkaitan dengan Mbak Susi. Beliau benar-benar fenomena. Magnetnya luar biasa. Seandainya saya berkesempatan bertemu, saya akan mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi menteri, selamat atas fenomena pada dirinya, dan membisikkan sedikit pesan agar berupaya terus menerus memperbaiki diri dari kelemahan yang masih ada. Misalnya jika belum bisa berhenti merokok maka setidaknya merokoknya tidak di depan publik atau media karena kebetulan beliau sekarang sudah menjadi pejabat publik. Jika pesan saya tidak diterima atau saya disemprot atau bahkan dihinapun karena mbak Susi tidak menyukai pesan saya, tentu saja tidak apa-apa. Sudah lepas kewajiban :)

Kali ini saya ingin membahas tentang fenomena Mbak Susi yang nyentrik khususnya dalam kaitannya dengan bagaimana sebaiknya pembela Jokowi menanggapi dan menyikapi terhadap kritikan pada beliau. Dan sebenarnya respon sikap ini bisa bersifat umum pada kritikan atau masukan dalam hal apapun.

Pada Tahun 2010, tepat 6 hari sebelum pemaknaan tanggal lahir, saya pernah mereview sebuah catatan di Facebook's Notes tentang Bill Gates. Berikut materinya:

Sudah banyak yang tahu kehebatan Bill Gates. Pendiri Microsoft Corporations ini menjadi manusia terkaya di planet ini selama 13 tahun berturut-turut. Tahun ini posisinya direbut Warren Buffet, karena ia ceroboh ingin mencaplok Yahoo!, sehingga nilai saham Microsoft melorot, dan kekayaan bersihnya pun ikut terpotong. Andai tidak melakukan langkah blunder itu, ia masih terkaya di dunia tahun ini. Tidak heran jika ia menjadi idola banyak orang, termasuk saya.

Fokusnya di dunia peranti lunak memang tak tergoyahkan. Sepanjang hidupnya, fokus bisnisnya hanya di satu bidang ini — atau yang berkaitan dengan peranti lunak, jasa dan solusi. Ia tak pernah menoleh sedikitpun ke bidang lain. Pria kelahiran 28 Oktober 1955 ini mampu membangun Micrsoft dari titik nol menjadi perusahaan dengan penjualan sebesar US$ 51,12 miliar alias sekitar Rp 500 triliun pada tahun fiskal Juni 2007. Itu artinya hampir setara dengan 70% belanja negara kita tahun ini.

Melalui payung Microsoft pula ia mampu menampung 78 ribu tenaga kerja yang tersebar di 105 negara. Melalui Microsoft pula ia mendominasi pasar peranti lunak dunia.

Dengan prestasi yang sedemikian hebat, tidak mengherankan jika kedatangannya di Indonesia tahun lalu disambut meriah. Kuliah umumnya berjudul ‘Second Digital Decade’ yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Jumat 9 Mei 2009 lalu, dihadiri 2.500 orang, mulai dari presiden, menteri kabinet, pengusaha, profesional hingga mahasiswa. Masih ribuan lagi lainnya yang terpaksa gigit jari karena kehabisan tiket untuk mengikuti kuliah umum itu.

Ada satu hal penting yang disampaikan Bill Gates mengenai pendidikan pada kuliah umum itu. “Semua anak (pelajar) harus menyelesaikan pendidikan, untuk itu perlu semua pihak termasuk pemerintahan anda, harus turun tangan untuk itu,” kata Bill Gates, yang disambut tepuk tangan hadirin. Bahkan pada saat sesi tanya jawab, Bill Gates secara tegas menyarankan agar para mahasiswa tidak meniru dirinya yang DO di tengah jalan meski sempat kuliah di Harvard University.

“Selesaikan kuliah Anda dan raihlah gelar akademis,”katanya.
Bagaimanapun juga, kuliah adalah saat yang paling tepat untuk memenuhi segala keingintahuan mahasiswa. Dan jika ingin menjadi pengusaha, gunakanlah kesempatan magang di perusahaan secara maksimal.

“Saya ini contoh yang buruk,” katanya seperti dikutip Detikdotcom.

Selama ini, saya sering membaca kesalahpahaman banyak orang yang ingin menjadi pengusaha dengan mengorbankan kuliah. “Bill Gates yang nggak lulus kuliah saja bisa jadi yang terkaya di dunia,” kira-kira begitulah alasan mereka. Bahkan mereka bisa memberikan banyak contoh orang yang sukses di dunia usaha tanpa embel-embel sarjana. Larry Allison — pendiri Oracle Corporation — misalnya, adalah mahasiswa gagal. Steven Spielberg, sutradara film-film box office dunia, juga putus kuliah. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sang triliuner baru yang baru berumur 23 tahun, juga tak menyelesaikan kuliahnya di Harvard University.

Kenyataan di atas kadang malah digunakan sebagai lelucon: bahwa mereka yang pintar secara akademis tidak akan sukses di dunia usaha. Mereka yang pintar dan lulus sarjana malah menjadi jongos orang-orang “bodoh” yang tidak lulus kuliah.

Memang, mereka yang tidak memiliki gelar sarjana tetap berpeluang menjadi pengusaha sukses. Namun bukan berarti bahwa mengorbankan kuliah merupakan tiket menuju sukses. Bahkan, jika dilakukan penelitian, kemungkinan sarjana yang sukses menjadi pengusaha amat banyak. Namun, karena sarjana sukses berusaha dianggap sebagai hal yang biasa, tidak banyak media yang mengulasnya. Lebih menarik mengupas tokoh-tokoh sukses yang latarbelakangnya menderita atau kurang bagus — termasuk tidak lulus kuliah. Ini yang bisa menimbulkan persepsi sesat bahwa DO adalah ciri pengusaha sukses.

Bill Gates sudah menyampaikan dengan jelas, bahwa dirinya adalah contoh yang buruk dalam hal akademis. Sesungguhnya ia sangat ingin menggondol gelar sarjana. Simak bagaimana pidatonya setelah ia menerima gelar sarjana kehormatan dari Harvard University tahun lalu:

“Sudah lebih dari 30 tahun saya menunggu untuk mengatakan ini, ‘Ayah, saya selalu bilang saya akan kembali (ke kampus) dan meraih gelar.’ Tahun depan (2008) saya akan ganti pekerjaan. Merupakan sesuatu yang menyenangkan bahwa bisa mencantumkan gelar sarjana di daftar riwayat hidup.” 

Benar, ia kini telah berganti pekerjaan. Ia sudah mundur dari manajemen Microsoft, dan “hanya” menjadi chairman. Waktunya lebih banyak didedikasikan ke Yayasan “Bill and Melinda Gates” yang didirikan tahun 2000 dengan tujuan membantu proyek-proyek peningkatan kesehatan, pengurangan kemiskinan, dan proyek yang memperluas akses masyarakat kepada teknologi.

Ucapan Bill Gates menyiratkan sesuatu, yang kira-kira seperti ini: “Contohlah saya, tapi jangan di sisi akademis”

https://www.facebook.com/notes/rudi-rosidi/belajar-dari-bill-gates/460686721280

Coba kita renungkan, seorang Bill Gates saja yang prestasinya sudah sangat luar biasa di berbagai ranah aktivitas baik riset, teknologi maupun bisnis, begitu tawadhu' atau rendah hati dan tidak sungkan untuk mengatakan jangan mencontoh keburukan saya. Apakah kita yang masih belum 'apa-apa' tidak mau belajar dari kerendahan hati beliau?

Buat saudara-saudaraku semua, khususnya rekan-rekan Pembela Jokowi dan derivatif aktivitasnya, mari belajar untuk membenarkan sesuatu yang sudah benar menurut hati nurani kita. Hindarilah 'membela diri' dengan apologis yang hanya menambah masalah baru. Saya yakin siapapun yang melakukan kritik baik yang santun atau pun tidak santun, memiliki tujuan yang sama dengan kita semua: agar Indonesia menjadi lebih baik.

Dikritik, dimarahin atau dihina tidak akan membuat luka bakar di kulit atau menyebabkan kejang-kejang, pusing, mual, dan efek samping lain pada fisik. Jadi ambil saja materi nasehatnya jika memang benar. Jika tidak setuju dengan metode kritiknya, silakan usulkan untuk memperbaiki metodenya pada yang bersangkutan.

Dan sebaliknya buat yang melakukan kritik, mari murnikan niat dan memperbaiki metode kritik masing-masing supaya lebih mudah dipahami oleh pihak yang dikritik.

Satu hal yang penting kita amati, pujian dan kritikan itu jika disimbolkan dengan jempol maka keduanya sebenarnya sama saja, yang membedakan hanya pada sudut pandang. Sebuah kritikan jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sesungguhnya adalah sebuah pujian. Begitu pun sebaliknya.

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah : 22)

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al Maidah : 8)

Wallahu a'lam...



 
Tidak kurang dari sepekan ini nama Susi Pudjiastuti menjadi melejit. Lejitannya bahkan mungkin lebih heboh dari isu harga BBM yang akan naik pada tanggal 1 November nanti.

Saya mengamati berbagai berita, postingan dan komentar yang ada di dunia maya berkaitan dengan aksi nyentrik ibu menteri ini. Tulisan ini juga didasari oleh postingan rekan saya Pak +Erwan Waluyo  yang kebetulan adalah teman beliau semasa SMA dan tentunya sangat mengenalnya karena selepas SMA nya pun mereka masih berkomunikasi.

Seperti biasa, ketika ada fenomena yang menarik seperti pengangkatan Susi menjadi menteri, masyarakat kita yang sudah terbawa physiologic barrier kembali masuk ke suasana sindrom dukung-mendukung.

Sebagian masyarakat yang menganggap benar keputusan Jokowi dengan mengangkat Susi kembali berapologis dan memaksakan argumentasi terhadap pendapat yang tidak setuju, sementara itu sebagian lagi yang menganggap keliru keputusan Jokowi dalam mengangkat Susi didudukkan dalam kabinet terlihat terlalu tergesa-gesa mengkritik tanpa diikuti dengan analisis komprehensif atau setidaknya data yang lebih memadai. Tepatnya, keduanya sekedar memenuhi kepuasan batin.

Namun seperti yang ditulis ole Pak Erwan, ada yang menggelitik dari kebiasaan masyarakat sindrom pilpres ini. Ketika sebagian masyarakat mengkritisi aspek attitude dari seorang Susi khususnya dalam hal latar belakang pendidikan dan perilaku merokoknya, Banyak sekali Pembela Jokowi (lagi-lagi) menyanggahnya dengan membandingkan secara tidak logis. Semisal:

"Pilih mana berpendidikan tinggi tapi korupsi, atau berpendidikan rendah tapi tidak korupsi"

atau perbandingan lain:

"Pilih mana merokok tetapi berprestasi, atau tidak merokok tapi tidak berprestasi."

Seperti yang ditulis oleh Pak Erwan, logika ini sebenarnya membahayakan. Khususnya bagi masyarakat yang tidak terbiasa berfikir secara komprehensif. Mari kita perhatikan percobaan perbandingan di atas.

Ada 4 (empat) sifat yang disebutkan, ada 2 (dua) pasangan sifat yang dikombinasikan, namun hanya ada 2 (dua) pilihan yang diberikan. Padahal dalam pelajaran matematika di sekolah menengah, kita semua pernah mendapatkan teori permutasi dan kombinasi bahwa jika ada 4 elemen dari sebuah himpunan, maka banyaknya kombinasi yang berukuran 2 elemen akan menghasilkan:

4! / (2! (4 - 2)!) = 4! / (2! x 2!) = (4 x 3 x 2 x 1) / (2 x 1) (2 x 1) = 6 kombinasi.

Pada kasus: "Pilih mana berpendidikan tinggi tapi korupsi, atau berpendidikan rendah tapi tidak korupsi"  sebenarnya memuat 4 elemen himpunan, yakni: (1) Berpendidikan Tinggi, (2) Berpendidikan Rendah, (3) Korupsi, dan (4) Tidak Korupsi.

Maka jika ingin dikombinasikan menurut kaidah matematika di atas, maka akan memberikan 6 pilihan:

1. Berpendidikan Tinggi dan Tidak Korupsi
2. Berpendidikan Rendah dan Korupsi
3. Berpendidikan Tinggi dan Korupsi
4. Berpendidikan Rendah dan Tidak Korupsi
5. Berpendidikan Tinggi dan Berpendidikan Rendah
6. Korupsi dan Tidak Korupsi.

Untuk kombinasi no. 5 dan no. 6 tentu saja kita tidak pakai karena kita sedang membandingkan 2 elemen varibael yang bukan negasinya satu sama salin.

Jadi seharusnya pilihan yang ditawarkan ada 4 (empat) yakni:
1. Berpendidikan Tinggi dan Tidak Korupsi
2. Berpendidikan Rendah dan Korupsi
3. Berpendidikan Tinggi dan Korupsi
4. Berpendidikan Rendah dan Tidak Korupsi

Jika ditawarkan seperti itu, maka hampir pasti semua dari kita akan memilih seorang menteri yang berpendidikan tinggi dan tidak korupsi atau pilihan nomor 1, dan kita semua juga hampir pasti tidak akan memilih nomor 2, berpendidikan rendah dan korupsi.

Mari berhati-hati untuk tidak terjebak dalam logika matematika yang keliru. Kebiasaan seperti ini baik disengaja atau tidak akan mencuci otak kita bahwa kita bisa 'membenarkan' sesuatu yang jelek karena ada sesuatu yang 'baik' di sisi lain. Akibatnya adalah kita terjebak dalam debat tidak sehat yang hanya mengukur apapun dengan mencari yang baiknya saja tanpa berfikir secara komprehensif untuk menilai yang buruknya juga.

Semoga ke depan, masyarakat Indonesia bisa berfikir lebih komprehensif dalam menganilisis sesuatu. Sehingga khusus buat umat Islam, tidak akan ada lagi kita temui pertanyaan 'menyesatkan' seperti:

"Pilih mana, pejabat muslim yang korup atau non muslim yang tidak korup?"

Sebab jika merunut pada data di KPK atau NGO KPK Watch, masih ada bahkan banyak pejabat muslim yang tidak korup dan pejabat non muslim yang korup.

Wallahu a'lam...

Link Postingan Pak Erwan:
https://plus.google.com/u/0/114980398146008345617/posts/82r52WeFrX3


Banyak dari kita mungkin tak sempat sadar bahwa paradoks kehidupan banyak dialami oleh sebagian dari kita. Waktu kecil kita memiliki banyak waktu, banyak tenaga, namun sedikit uang. Ketika masa produktif kita memiliki banyak uang, banyak tenaga, namun sedikit waktu. Dan pada masa tua, kita memiliki banyak waktu, banyak uang, namun sedikit tenaga.

Jika kita mengalami paradoks kehidupan seperti itu, maka kapan kita menikmati hidup? Tidak sedikit yang berujung menyesal ketika pada masa tua merasa tidak sempat banyak menikmati hidup.

Ilustrasi paradoks kehidupan di atas padahal baru sebatas pemahaman duniawi. Kesuksesan atau kebahagiaan dunia hanya terukur dari banyaknya harta atau uang. Maish belum masuk ke ranah substansi untuk apa waktu, tenaga, dan uang yang banyak kita miliki.

Jika dikembangkan lagi pada ranah substansi bahwa segala aktivitas kita adalah ibadah, maka pertanyaannya mungkin menjadi:

"Pada setiap episode kehidupan kita, sebarapa banyak waktu, tenaga, dan harta yang kita miliki diperuntukkan dalam rangka beribadah kepada Tuhan Yang Memiliki ketiganya?"

Dalam ajaran Islam, segala aktivitas kita haruslah bernilai ibadah. Termasuk kerja. Kerja haruslah bernilai ibadah. Jika kita kerja tak bernilai ibadah maka Islam mengkategorikan amalan kita adalah sia-sia, tak bernilai sedikit pun di akhirat kelak.

Mari kita sedikit membangun algoritma sederhana tentang kerja dan ibadah.

Premis 1: Kerja dilakukan untuk mendapatkan uang
Premis 2: Uang digunakan untuk kebaikan
Premis 3: Salah satu kebaikan adalah berbagi kepada sesama
Premis 4: Berbagi kepada sesama adalah ibadah

Konklusi: Kerja adalah untuk ibadah.

Maka jika kerja kita mampu menghasilkan harta yang banyak namun harta tersebut tidak dapat membawa kebaikan semisal berbagi kepada sesama, maka kerja keras kita bisa jadi tak bernilai ibadah.

Itulah mengapa, harta sebagai manisfestasi hasil kerja kita akan mendapatkan dua pertanyaan di akhirat kelak. Bagaimana memperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya.

Semoga saja Kabinet Kerja yang menjadi nama kabinet pemerintahan sekarang adalah juga merupakan Kabinet Ibadah. Jargon Kerja ... Kerja ... Kerja ... menjadi sebuah makna Ibadah ... Ibadah ... Ibadah ...

Dan ibadah dalam Islam adalah ibadah multidimensi. Tak sekedar berbentuk horisontal terhadap sesama (Ibadah Muamalah), namun juga vertikal dengan Allah SWT (Ibadah Mahdhah).

Sehingga hasil kerja kabinet sekarang adalah juga mampu untuk meningkatkan ibadah mahdhah rakyatnya. Aamiin ...

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Wallahu a'lam ...


Ada yang menarik dari polemik yang terjadi pasca pengumuman Kabinet Kerja hari minggu kemarin. Salah satu yang menjadi tema nya adalah tentang profesionalisme.

Istilah Profesionalisme mengingatkan saya pada salah seorang rekan sesama pendiri Universitas Muhammadiyah Cirebon yang juga pernah menjadi Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan di UNPAD. Beliau pernah menyusun makalah tentang profesionalisme khususnya dalam pelayanan publik di bidang pemerintahan.

Beliau memaparkan bahwa profesionalisme diawali dari proses rekruitmen. Jangan berharap banyak profesionalisme akan terwujud dalam sebuah institusi baik swasta apalagi pemerintah, jika proses rekruitmen yang dilakukan amat jauh dari kaidah-kaidah rekruitmen yang benar dan profesional.

Banyak kasus yang beliau contohkan beberapa waktu yang lalu. Mulai dari rekruitmen Polisi, PNS, dan sebagainya yang sarat dengan budaya tidak profesional. Hingga dalam bidang pendidikan pun, pasca diberlakukannya BHMN untuk PTN, banyak sekali rekruitmen mahasiswa baru yang tidak menjadikan acuan potensi kecerdasan siswa didik sebagai prioritas keputusan penerimaan mahasiswa baru. Masuk kedokteran di PTN misalnya, sekarang lebih mudah dilakukan asal punya uang dan masuk kelas 'khusus'.

Perekrutan dengan cara tidak profesional ibarat merantai tangan dan kaki seorang pekerja di meja kerja. Akibat dirantai tersebut menyebabkan ia tidak bisa bekerja. Namun tidak bisa dikeluarkan juga dari tempat kerja karena sudah terantai. Dilematis!

Saya meyakini bahwa institusi yang paling tidak profesional di negeri ini adalah organisasi politik atau partai politik, Tidak ada rekruitmen profesional dalam membangun kader partai baik yang akan mengurus partai di internal maupun yang akan masuk ke wilayah kebijakan publik seperti anggota dewan (legistatif) atau kepala pemerintahan (eksekutif).

https://plus.google.com/u/0/110235687001326579737/posts/4ESKuoXTcD2

Kondisi ini akan menjadi titik rawan terbentuknya tim yang tidak profesional dalam sebuah struktur pemerintahan yang 'mata api' nya adalah partai. Dalam sebuah kesempatan perenungan diri saya bertanya dalam hati:

"Apakah Susi Pudjiastuti adalah orang terbaik yang dimiliki di negeri ini yang menguasai Bidang Kelautan dan Perikanan sehingga walaupun etikanya dipandang belum memadai oleh budaya masyarakat Indonesia harus dijadikan menteri di bidang tersebut?"

atau:

"Apakah Anies Baswedan adalah orang terbaik yang dimiliki di negeri ini yang menguasai Bidang Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah sehingga hanya karena pertimbangan beliau menjadi tim sukses Jokowi-Kalla harus dijadikan menteri di bidang tersebut?"

Dalam renungan lebih dalam, saya berpendapat sepertinya Mbak Susi lebih cocok di deputi perdagangan hasil dan olahan laut, atau Mas Anies lebih cocok di salah satu deputi di kementerian yang mengurusi pendidikan tinggi.

Masih banyak lagi menteri-menteri lain yang menjadi proses perenungan saya, seperti misalnya Puan Maharani, Lukman Hakim Saifuddin, Rudiantara, dan lainnya yang mengusik logika fikir saya. Tapi akan terlampau luas jika dibahas satu persatu.

Namun sepertinya sebagian besar masyarakat pemikir di Indonesia sudah mulai sepakat bahwa saat ini sebaiknya tidak ada lagi melakukan 'pemaksaan pembenaran' bahwa keputusan dalam penyusunan kabinet adalah tanpa dilatarbelakangi syarat. Tidak ada koalisi tanpa syarat. Setidaknya adalah sebuah syarat yang bersumber dari kesamaan ideologi politik dan proses pilpres.

Fenomena pilpres dengan segala physiologic barriernya ternyata terus berlanjut. Sebagian masyarakat yang menganggap benar keputusan Jokowi kembali berapologis dan memaksakan argumentasi terhadap pendapat yang tidak setuju, sementara itu sebagian lagi yang menganggap keliru keputusan Jokowi dalam mengangkat orang-orang yang didudukkan dalam kabinet terlihat terlalu tergesa-gesa mengkritik tanpa diikuti dengan analisis komprehensif atau setidaknya data yang lebih memadai. Keduanya sekedar memenuhi kepuasan batin.

Namun terlepas dari perbedaan tersebut, setidaknya mari kita sama-sama berdoa saja semoga kabinet ini akan menjadi profesional dan mampu membawa kehidupan Indonesia menjadi lebih baik. Sambil terus membiasakan diri kita masing-masing untuk mau dan mengembangkan budaya diskusi yang sehat. Aamiin ...


Mungkin banyak dari kita yang sulit membedakan ilmu dan pengetahuan. Dua kata tersebut terlihat memiliki makna yang sama. Mungkin banyak dari kita juga yang terbiasa menggunakan terminologi ilmu untuk pengetahuan, atau pun sebaliknya.

Ada cerita menarik berkaitan dengan ilmu dan pengetahuan dari rekan yang saya pandang memahami filsafat ilmu. Begini ceritanya ...

"Suatu hari ada seorang manusia melewati sebuah rumah yang di luar pagarnya dijaga oleh seekor anjing. Persis ketika akan berpapasan mereka saling menatap penuh kewaspadaan."

"Otak anjing mengeluarkan insting dan berguman: 'Wah ada manusia asing, harus hati-hati nih ...'

"Begitu pula dengan si manusia. Otaknya 'bergerak' cepat untuk berfikir dan berguman dalam hatinya: 'Wah ada anjing, harus hati-hati nih ...' "

"Dalam kondisi kewaspadaan keduanya, ketika berpapasan, tiba-tiba si anjing menggonggong bahkan menyalak. Maka dengan sigap si manusia merunduk mengambil batu yang kebetulan ada di sekitarnya kemudian melempari anjing tersebut dengan batu. Anjing itu pun langsung berlari kencang ke dalam rumah menjauhi manusia.

Si manusia lega dan si anjing terengah-engah ...

Esok harinya si manusia yang sama melewati lagi rumah yang sama. dan menemui anjing yang sama pula dengan kemarin. Si anjing berguman: "Wah ini manusia yang kemarin ..." Si Manusia pun berguman: "Wah ini anjing yang kemarin ..."

"Keduanya pun langsung saling waspada. Namun si manusia dan si anjing tampak lebih tenang sementara dibanding hari kemarin. Bedanya, si manusia lebih tenang karena mengingat kejadian kemarin dan dari hasil bercerita dengan teman-temannya bahwa anjing akan lari karena ditimpuk batu, sementara si anjing lebih tenang juga karena kejadian kemarin, tidak menyalak lagi."

"Pada saat berpapasan, secara tiba-tiba tali sepatu si manusia terlepas. Kemudian manusia itu merunduk untuk memperbaiki tali sepatunya. Melihat kejadian itu, tiba-tiba si anjing berlari ke dalam sesaat si manusia merunduk memperbaiki tali sepatunya."

Setelah bercerita seperti itu, rekan saya bertanya kepada saya:
"Mengapa si anjing lari ke dalam ... "?

Saya menjawab:
"Mungkin karena anjing tersebut menyangka manusia akan menimpuknya lagi dengan batu karena melihat manusia tersebut merunduk."

Rekan saya langsung merespons:
"Benar sekali!"
"Anjing menggunakan satu fakta untuk menyimpulkan sesuatu dengan instingnya, sementara manusia (seharusnya) menggunakan banyak varian fakta untuk menyimpulkan sesuatu dengan fikirnya.

Selanjutnya rekan saya menjelaskan:
"Itulah beda ilmu dan pengetahuan. Ilmu dan pengetahuan memang keduanya berasal dari fakta-fakta kehidupan yang ada. Namun ilmu meramu fakta-fakta dengan teratur dan sistematis menjadi sebuah teori sedangkan pengetahuan tidak meramu fakta-fakta tersebut secara teratur dan sistematis menjadi sebuah teori. Pengetahuan hanya menjadikan fakta-fakta tersebut menjadi sebuah pengalaman saja."

Sejenak kemudian rekan saya itu bertanya:
"Berarti orang yang terlalu bangga karena pengalamannya saja, maka orang tersebut seperti...?"

Saya tanpa pikir panjang langsung berseru: "Anjing!!"

Dia tersenyum, dan melanjutkan lagi penegasannya dengan penuh bijak:
"Ilmu dan Pengetahuan, seperti hal nya teori dan pengalaman, semuanya adalah penting. Ilmu tanpa pengetahuan menjadi tak berdaya guna, sementara pengetahuan tanpa ilmu menjadi tak berkembang luas."

"Biarkanlah ilmu diramu dengan baik oleh para akademisi di kampus dan sekolah-sekolah, sementara pengetahuan diterapkan oleh kalangan praktisi di lapangan dan industri. Jangan saling merasa bangga dengan teori yang kita punya atau pengalaman yang kita miliki. Keduanya sama pentingnya."

Cerita ini didedikasikan untuk menyikapi fenomena dan polemik di masyarakat dalam menyikapi Menteri Kabinet Kerja yang kebetulan belum sempat mengenyam pendidikan tinggi.

Marilah sama-sama menghargai orang yang memiliki keunggulan di wilayah teori, begitu pula saat kita menghargai orang-orang yang memiliki keunggulan di pengalaman. Sebab ilmu dan pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri, namun keduanya akan saling melengkapi. Persis seperti ajaran agama kita untuk menyayangi binatang untuk menjadi pelengkap kehidupan, bahkan pada anjing yang suka menyalak sekali pun.

Celotehan dari Cafe Tenda Saras Bogor. Semoga bermanfaat ...

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (QS. Al-Baqarah [2] : 219)

Wallahu a'lam...



Konsep sederhana dari sebuah aktivitas keuangan baik dalam perencananaan dan realisasi dimanapun adalah bagaimana meningkatkan pendapatan dan menurunkan belanja untuk mencapai surplus anggaran yang tinggi. Tulisan kali ini mencoba mengulas kemungkinan kebijakan yang akan diambil oleh pemerintahan baru 5 tahun mendatang.

Struktur APBN Tahun 2014 secara garis besar memuat PENDAPATAN yang berasal dari:
1. Penerimaan Dalam Negeri berupa Penerimaan Perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak.
2. Hibah.

Dan pada sisi BELANJA yang berasal dari:
1. Belanja Pemerintah Pusat yang dialokasikan untuk belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, dan pembayaran kewajiban hutang, subsidi, belanja hibah, belanja sosial, dan belanja lainnya.
2. Transfer ke Daerah yang dialokasikan sebagai dana perimbangan, dan dana otonomi khusus dan penyesuaian.

Untuk detail dan contoh APBN 2014 bisa dilihat dalam gambar terlampir atau download di http://www.kemenkeu.go.id/Data/realisasi-apbn-ta-2014-25-juli-2014-i-account.

Pertanyaan krusialnya adalah:

"Unit pendapatan mana secara persentase yang akan digenjot oleh Jokowi-Kalla untuk ditingkatkan, dan unit belanja mana yang akan digenjot pula oleh Jokowi-Kalla untuk diturunkan pada masa kepemimpinannya ke depan?"

Jika mengamati beberapa kesempatan pernyataan beliau-beliau baik ketika debat pilpres maupun setelah terpilih, sepertinya unit yang akan digenjot ditingkatkan pendapatannya adalah bersumber dari pajak, dan unit yang akan diturunkan belanjanya adalah belanja pegawai dan subsidi.

Tiga item tersebut yang beberapa kali digadang-gadang akan diterapkan dalam kebijakan pemerintahan Jokowi-Kalla. Pernyataan seperti meningkatkan pendapatan pajak, mengurangi tunjangan PNS, dan menaikkan harga BBM (mengurangi subsidi) adalah seringkali kita dengar dari pernyataan beliau-beliau.

Belum sempat saya dapatkan mereka berdua secara intensif mengatakan akan meningkatkan pendapatan melalui non-pajak misalnya dengan meningkatkan pendapatan BUMN, atau mengurangi beban belanja lainnya semisal negosiasi pembayaran hutang dalam negeri dan luar negeri.

Memperhatikan kenyataan ini, bagi saya yang bukan alumni Fakultas Ekonomi yang pernah belajar ekonomi makro dan mikro, ekonomi pembangunan, dan strategi kebijakan, boleh ditarik hipotesis sementara bahwa sepertinya kebijakan yang paling mendasar dari pemerintahan ke depan adalah meningkatkan sumber pendapatan yang berasal dari rakyat (pajak), dan mengurangi belanja yang diperuntukkan buat rakyat (subsidi).

Padahal harapan saya pribadi adalah pemerintah ke depan dapat meningkatkan pendapatan yang berasal dari perdagangan ke luar negeri semisal melalui penguatan pendapatan BUMN baik migas maupun non-migas, dan mengurangi belanja untuk luar negeri semisal negosiasi hutang.

Semoga saja hipotesis saya tidak teruji benar agar rakyat yang sudah berat beban hidupnya ini tidak semakin terbebani lagi. Rakyat tidak diposisikan sebagai KUDA yang terus harus berlari kencang untuk menyamankan JOKInya, sang Penguasa. Aamiin ...


Pria itu seperti matahari yang terang dan menghangatkan, seperti sisi kanan yang lekat dengan kebenaran, seperti siang yang tegas dan mencerahkan, seperti jiwa yang menggerakkan raga, dan seperti langit yang menaungi kehidupan.

sebaliknya ....,

Wanita itu seperti rembulan yang gelap dan membekukan, seperti sisi kiri yang lekat dengan kekeliruan, seperti malam yang lemah dan membutakan, seperti raga yang tak berdaya tanpa jiwa, dan seperti bumi yang menghamparkan kesenangan.

Walau rusuk kiri dihadirkan dengan kondisi yang tak lurus, namun wanita adalah tempat tumbuhnya kehidupan. Sekeping kehidupan baru hanya berawal dari rahim yang amat kuat dari seorang wanita. Tanpanya kehidupan menjadi terhenti, dan pria menjadi tak berarti.

Maka meluruskan tulang rusuk dengan kelembutan, menghangatkannya dengan sinar, menaunginya dengan pesan-pesan dari langit agar tumbuh kehidupan yang penuh kasih sayang, adalah sebuah syarat mutlak bagi keturunan adam dan hawa yang benar-benar merindukan memahami makna penciptaan dan bersungguh-sungguh ingin mengenal Siapa yang menciptakan keduanya dan kapan keduanya akan kembali kepada-Nya.

Bukankah rembulan menjadi bercahaya ketika matahari menyinarinya?

Keunggulan potensi pemahaman pemikiran bagi laki-laki dan pemahaman perasaaan bagi perempuan akan menjadi kekuatan luar biasa jika keduanya saling menguatkan satu sama lain ... Namun akan menjadi kehancuran yang nyata jika keduanya saling melemahkan untuk terlihat menjadi dominan dan saling menguasai ... 

“Janganlah seorang laki-laki mukmin memarahi seorang perempuan mukmin. Apabila tidak suka terhadap salah satu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan.” (HR Muslim)


Banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari proses penciptaan Adam as. Dalam tulisan kali ini saya membahasnya dari aspek sifat-sifat  Adam, Malaikat, dan Iblis.

Beberapa ayat dalam Alquran banyak yang menceritakan proses penciptaan Adam as ini. Salah satunya terdapat dalam Surat Al Baqarah.

Pada saat Allah SWT berifrman akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi, baik malaikat maupun iblis, keduanya menanyakan tentang apa maksud Allah SWT menciptakan Adam dan menjadikannya khalifah.

Namun ada perbedaan mendasar antara pertanyaan malaikat dan pertanyaan iblis. Jika malaikat bertanya karena keingintahuan (akal fikirnya), tidak demikian dengan iblis yang bertanya karena kesombongannya merasa lebih hebat karena dirinya diciptakan dari api sementara Adam as dari bumi (nafsu).

Allah SWT pada awalnya memerintahkan mereka (malaikat dan iblis) untuk taat saja dan tidak membantah. Namun Allah SWT akhirnya memberikan 'ujian' terhadap keingintahuan malaikat dan kesombongan iblis.

Allah SWT meminta ketiganya untuk menyebutkan 'nama-nama'. Dan akhirnya teruji bahwa Adam lah yang mampu menyebutkan nama-nama tersebut sementara malaikat dan iblis tidak mampu melakukannya. Lalu keduanya diminta sujud (hormat) kepada Adam as atas kemuliaan yang dimiliki Adam as.

Bagaimana sikap malaikat dan iblis ketika ujian itu telah membuktikan bahwa Allah SWT adalah Maha Benar, dan diminta hormat kepada Adam as?

Malaikat langsung menaati perintah Allah SWT dengan melakukan hormat kepada Adam as, sementara iblis tetap membangkang dengan kesombongannya.

Melihat kondisi seperti itu maka Allah SWT melaknat iblis dengan menurunkannya dari surga, dan menjuluki iblis sebagai insan yang sesat.

Iblis bukannya introspeksi diri, malah menantang Adam as dengan meminta kepada Allah SWT untuk memberi tangguh. Iblis bersumpah akan menghasut anak cucu Adam as agar tidak mentaati perintah Allah SWT dan menjadi golongan mereka. Allah SWT mengabulkan.

Setelah Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam as, maka hasutan iblis langsung dilancarkan kepada Siti Hawa agar melanggar perintah Allah SWT untuk tidak mendekati buah khuldi. Iblis melakukan kebohongan, fitnah, dan tipudaya bahwa buah khuldi dapat membuat Adam as dan Siti Hawa kekal di surga. Dan hasutan ini berhasil. Siti Hawa merayu Adam as, kemudian mereka berdua akhirnya ikut diturunkan ke bumi.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut? Bila kita amati, iblis memiliki sifat sombong (merasa hebat). Iblis menggunakan nafsu dibanding akalnya untuk memahami kenyataan kebenaran. Berbeda dengan malaikat.

Bahkan walau sudah dibuktikan dengan kebenaran di saat Adam as ternyata lebih mampu menyebutkan 'nama-nama', iblis tetap tidak mau menerima kebenaran itu, malah mengajak 'perang' kepada Allah SWT dengan cara menghasut Adam as. Dalam hasutannya tersebut iblis melakukan kebohongan, fitnah, dan tipudaya.

Siapa yang mudah dihasut oleh iblis? Ternyata Siti Hawa yang amat dekat dengan perasaan, Dan Siti Hawa pun ikut 'merayu' Adam as dengan pendekatan perasaan (nafsu).

Hikmah yang dapat kita pelajari dari kisah tersebut adalah bahwa sifat sombong dapat membuat kita menolak kepada kebenaran, menjadi hasut dengan melakukan kebohongan, fitnah, dan tipudaya.

Seberapa besar sifat iblis ini ada pada diri kita? Amat sangat tergantung pada seberapa sombong kita dan seberapa besar kita mau untuk menerima kebenaran. Dan kebenaran itu ada di Alquran dan as Sunnah. Semakin kita jarang menghayati alquran dan as sunnah, maka semakin jauh pula kita dari kebenaran.

Mari bersama-sama menghayati Alquran dan as Sunah, agar kita lebih banyak terjaga oleh sifat-sifat malaikat yang kuat dengan penggunaan AKAL nya, dan tidak tergelincir dalam sifat-sifat iblis yang kuat menuruti hawa NAFSU nya.

DOA KESELAMATAN ~ AL-BAQARAH 286:
RABBANA LA TU-AKHIDZNA IN NASINA AU AKHTHA’NA RABBANA WALA TAHMIL ‘ALAINA ISHRAN KAMA HAMALTAHU ‘ALALLADZINA MIN QABLINA, RABBANA WALA TUHAMMILNA MA LA THAQATA LANA BIH, WA’FU ‘ANNA WAGHFIRLANA WARHAMNA ANTA MAULANA FANSHURNA ‘ALAL QAUMIL KAFIRIN.

“YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU HUKUM KAMI JIKA KAMI LUPA ATAU KAMI TERSALAH. YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU BEBANKAN KEPADA KAMI BEBAN YANG BERAT SEBAGAIMANA ENGKAU BEBANKAN KEPADA ORANG-ORANG SEBELUM KAMI. YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU PIKULKAN KEPADA KAMI APA YANG TAK SANGGUP KAMI MEMIKULNYA. BERI MA’AFLAH KAMI; AMPUNILAH KAMI; DAN RAHMATILAH KAMI. ENGKAULAH PENOLONG KAMI, MAKA TOLONGLAH KAMI TERHADAP KAUM YANG KAFIR.”)

Wallahu a'lam ...


Surat Al Baqarah tentang riwayat penciptaan Adam as:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [Al Baqarah 30]

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" [Al Baqarah 31]

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana [Al Baqarah 32]


Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" [Al Baqarah 33]

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.  [Al Baqarah 34]

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. [Al Baqarah 35]

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." [Al Baqarah 36]

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [Al Baqarah 37]

Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [Al Baqarah 38]

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [Al Baqarah 39] 


Sejarah meriwayatkan bahwa tuduhan orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT selalu lebih awal ditujukan kepada orang-orang yang beriman.

Mari kita perhatikan:

1. Nabi Adam as dituduh tidak mampu menjadi khalifah di bumi oleh Iblis ketika masih di Surga.

2. Habil dituduh tidak memberikan kurban yang baik oleh Kabil ketika awal manusia dilahirkan.

3. Nabi Ibrahim as dituduh sebagai orang yang durhaka kepada ayahnya dan menghancurkan tuhan nenek moyang Namrud di masa Babylonia.

4. Nabi Yusuf as dituduh mencuri oleh saudaranya dan berzina oleh istri Raja Mesir.

5. Nabi Musa as dituduh sebagai seorang penyihir dan penghasut umat olehFiraun di zaman Mesir.

6. Nabi Muhammad saw dituduh sebagai orang gila, tukang sihir, pemecah belah umat, orang sesat, dan banyak tuduhan buruk lain oleh Abu Jahal pamannya sendiri, dan kaum quraisy lainnya di Mekah.

Bahkan tuduhan kepada Rasulullah sampai sekarang pun masih terjadi.

Tuduhan-tuduhan itu teramat keji. Dan ketika dibuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak benar, 'korban' tuduhan malah mendapatkan siksaan pedih bahkan pembunuhan dari sang penuduh.

Habil dibunuh, Ibrahim dibakar, Musa diusir, Yusuf dipenjara, dan Muhammad di caci maki, dihina, di ancam dibunuh, di boikot, dan di usir dari kampung halamannya.

Hanya Adam yang ketidakbenaran tuduhan terhadp dirinya dibuktikan 'langsung' oleh Allah SWT di hadapan Iblis (penuduh) dengan saksi Malaikat.

Di akhir zaman ini, tuduhan dan fitnah semakin luar biasa, Tuduhan dunia internasional yang benci terhadap Islam semakin sistematis. Yang benar dituduh salah, dan yang salah malah diaggap benar.
Menuduh adalah ketika mendefinisikan orang lain dalam kondisi telunjuk yang lurus, mengarahkan 3 jari bengkok kepada diri sendiri, dan menahannya dengan erat dengan ibu jari kita. Ilustrasi ini bisa jadi menggambarkan bahwa sebuah tuduhan yang kita berikan pada orang lain adalah suatu upaya untuk menegaskan kebenaran itu ada pada orang lain (1 jari lurus), kekeliruan lebih kuat ada pada diri kita (3 jari bengkok), dan kita enggan untuk berubah menjadi benar karena tertahan erat oleh keangkuhan diri kita sendiri (jari jempol).

Mungkin kita bisa amati dan hayati, tuduhan-tuduhan itu begitu luar biasa terjadi dalam suasana Pilpres dan selepasnya sekarang ini. Siapakah yang paling banyak menuduh, dan siapa yang tertuduh? Silakan di analisis sendiri sesuai dengan potensi akal, hati dan nafsu masing-masing.


Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS. Al-Mu'min' 40:40)




Contact Form

Name

Email *

Message *

Labels

Translate

Revolusi Akal dan Hati

Melewati sisi waktu yang tak terhenti, bernaung dalam ruang yang tak terbatas, untuk sebuah pemahaman yang tak berujung ...

Total Pageviews